Browse By

Evaluasi Pemadaman Udara: Baru 45% Kebakaran TPA Jatiwaringin yang Padam, Asap Masih Mengepul

TANGERANG, Jabarnusa News. – Operasi darurat penanggulangan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, masih terus berlanjut di bawah pengawasan ketat tim gabungan. Kendati armada darat dan helikopter pengebom air telah dikerahkan secara intensif, laporan terkini menunjukkan bahwa baru 45% kebakaran TPA Jatiwaringin yang padam, asap masih mengepul pekat dan menyelimuti wilayah permukiman sekitarnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dinas pemadam kebakaran setempat mengonfirmasi bahwa pengetatan perimeter api terus dilakukan. Namun, karakteristik tumpukan sampah yang tebal menciptakan tantangan ekstrem di mana bara api di lapisan bawah tanah belum sepenuhnya bisa dijinakkan.

“Evaluasi visual dan pemetaan termal udara hari ini menunjukkan progres pemadaman baru mencapai kisaran angka tersebut. Hambatan utama kami adalah bara dalam (deep-seated fire) yang terus menyala di bawah permukaan. Jadi, meskipun permukaan atas tampak basah, baru 45% kebakaran TPA Jatiwaringin yang padam, asap masih mengepul akibat sisa pembakaran gas metana,” jelas komandan posko satgas darurat di lokasi.

Pemicu Lambatnya Pemadaman: Fenomena Deep-Seated Fire dan Angin Kencang

Lambatnya pergerakan pemadaman total di TPA Jatiwaringin disebabkan oleh kondisi tumpukan sampah domestik dan plastik yang menggunung hingga belasan meter. Ketika lapisan atas tersiram air, air tersebut seringkali menguap sebelum berhasil meresap ke episentrum bara api terdalam yang terjebak di zona bawah permukaan.

Beberapa faktor teknis yang menghambat percepatan pemadaman meliputi:

  • Akumulasi Gas Metana: Kantong-kantong gas metana yang terbentuk secara alami di bawah gunungan sampah bertindak sebagai bahan bakar konstan yang menyuplai api dari dalam.
  • Hembusan Angin Ekstrem: Cuaca kering disertai angin kencang di wilayah hulu Tangerang memicu lompatan api (spotting) ke zona sampah kering lainnya yang belum terbakar.
  • Risiko Amblesan Lahan: Armada pemadam jalur darat tidak bisa masuk terlalu dalam ke titik tengah zona karena struktur gunungan sampah yang labil dan rawan longsor pasca-terbakar.

Strategi Lanjutan: Penggunaan Foam Agent dan Injeksi Air Darat

Guna mengejar target pemadaman total sebelum dampak polusi udara semakin meluas, satgas darurat kini merubah taktik operasional. Pengeboman air dari helikopter (water bombing) tidak lagi menggunakan air murni, melainkan dicampur dengan cairan busa khusus (foam agent) yang mampu mengikat oksigen dan memutus siklus pembakaran plastik.

Secara paralel, petugas pemadam kebakaran di jalur darat mulai menerapkan metode water injection (injeksi air). Petugas menusukkan pipa besi khusus bermoncong tajam ke dalam tumpukan sampah untuk mengalirkan air bertekanan tinggi langsung ke titik bara api terdalam, guna memastikan tidak ada lagi potensi api yang menyala kembali dari bawah.

Dampak Kesehatan Lingkungan dan Sebaran Posko ISPA

Dampak langsung dari fakta bahwa baru 45% kebakaran TPA Jatiwaringin yang padam adalah tetap tingginya risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar. Asap hitam pekat yang membawa partikel mikro berbahaya (particulate matter) dilaporkan telah menjangkau radius lebih dari 4 kilometer dari pusat lokasi kebakaran.

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang bergerak cepat dengan meningkatkan status siaga di puskesmas-puskesmas terdekat. Warga diimbau untuk selalu mengenakan masker jenis N95 atau masker medis berlapis saat beraktivitas di luar rumah. Posko kesehatan darurat juga terus memonitor lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada balita dan lansia yang menjadi kelompok paling rentan terdampak kepulan asap TPA ini.