Browse By

Duet Kemanusiaan dari Desa Sukahaji: Kisah Otifah Fauziah dan Suami Sang Penyelamat Pasien

Foto : Otifah Fauziah PSM Desa Sukahaji

SUBANG, Jabarnusa News. – Di Desa Sukahaji, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, nama Otifah Fauziah bukan sekadar identitas petugas sosial. Ia adalah harapan bagi warga yang didera sakit namun bingung menghadapi birokrasi kesehatan. Di balik kegigihan Otifah, ada sosok setia yang selalu menemani di balik kemudi: sang suami yang berdedikasi sebagai relawan pengemudi ambulans desa.

Pasangan suami-istri ini telah menjadi “napas” bagi pelayanan kesehatan darurat di wilayahnya, memastikan tak ada warga yang tertahan di rumah hanya karena kendala transportasi atau administrasi.

Menembus Sekat Birokrasi Kesehatan

Sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Otifah Fauziah memahami betul bahwa kartu BPJS saja tidak cukup bagi warga awam. Banyak warga yang masih takut atau bingung saat harus berurusan dengan prosedur rumah sakit yang rumit.

“Ibu Otifah itu bukan cuma bantu urus surat, tapi dia ‘memegang tangan’ kita sampai ke dokter,” ujar salah satu warga yang pernah dibantu.

Dedikasi Otifah mencakup beberapa hal krusial:

  • Pendampingan Administrasi: Memastikan warga kurang mampu mendapatkan hak layanan kesehatan (PBI/SKTM).
  • Navigasi Rumah Sakit: Menemani pasien dari Puskesmas Ciasem hingga rujukan ke RSUD di Subang atau luar kota.
  • Dukungan Psikologis: Memberikan ketenangan bagi keluarga pasien di masa-masa kritis.

Ambulans Desa: Ruang Pengabdian Sang Suami

Keunikan dari profil pengabdian ini adalah keterlibatan sang suami. Jika Otifah berperan sebagai “otak” yang mengurus alur medis dan administrasi, sang suami adalah “kaki” yang memastikan pasien tiba tepat waktu.

Sebagai relawan pengemudi ambulans desa, ia sering kali harus terjaga 24 jam. Tak jarang, panggilan darurat datang di tengah malam buta atau saat hujan deras. Tanpa mengeluh, pasangan ini berangkat bersama—sang suami di kursi kemudi, sementara sang istri menenangkan pasien di kabin belakang.

Kolaborasi ini menciptakan sistem layanan kesehatan desa yang efektif. Warga tidak perlu mencari sopir dan pendamping secara terpisah; pasangan ini adalah paket lengkap pengabdian.

Edukasi Sosial: Mengetuk Hati Pemangku Kebijakan

Kisah Otifah Fauziah adalah sebuah otokritik bagi sistem pelayanan sosial di tingkat lokal. Aksinya menunjukkan bahwa integritas seorang pelayan masyarakat tidak diukur dari fasilitas yang ia terima, melainkan dari manfaat nyata yang ia berikan.

Keberadaan sosok seperti Otifah di Kabupaten Subang seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah daerah. Peran PSM merupakan garda terdepan dalam pengentasan kemiskinan dan masalah kesehatan. Melalui Otifah, kita belajar bahwa kebaikan tidak butuh menunggu jabatan tinggi, namun butuh keberanian untuk turun ke lapangan dan mendengar rintihan mereka yang membutuhkan. (Her.)